Cagar Budaya Menengok Vredeburg Dulu hingga Kini
27 Juli 2016 - 09:57:49

Mengunjungi Yogyakarta seakan belum lengkap jika belum bertandang ke kawasan sekitar Malioboro. Kawasan yang padat pedagang dan objek wisata ini hampir selalu ramai di tiap harinya. Turis domestik maupun mancanegara tak pernah melewatkan waktunya untuk sekadar mampir ke kawasan Malioboro. Pusat perbelanjaan dan bangunan kuno menjadi daya tarik tersendiri yang ditawarkan. Salah satu bangunan kuno yang masih berada di sekitar kawasan Malioboro adalah Benteng Vredeburg. Benteng yang dikelilingi dinding putih ini selalu ramai disambangi oleh wisatawan. Tatanan halamannya yang apik dan tiket masuk yang murah menjadi magnet yang kuat untuk menarik pengunjung.

Benteng Vredeburg yang kini difungsikan sebagai Museum rupanya memiliki sejarah yang cukup panjang. Awalnya, sekitar tahun 1760, Belanda membangun benteng yang bersifat sangat sederhana dengan status tanah milik Sultan Hamengku Buwono I; benteng tersebut diberi nama Rustenburg (Benteng untuk “mengaso” atau benteng peristirahatan). Selanjutnya, Belanda meminta kepada Sultan untuk menyempurnakan Rustenburg dengan dalih agar lebih dapat menjamin keamanan pemerintahan Sultan dan sewaktu-waktu dapat memberikan bantuan pertahanan yang sempurna. Pada tahun 1765, akhirnya rencana tersebut direstui oleh Sultan bahkan kepada pihak Belanda, Sultan menjanjikan mengadakan material-material bangunan (batu bata) sekaligus tenaga kerjanya. Kemudian Benteng tersebut dinamakan Benteng Vredeburg yang berarti “perdamaian” mungkin sebagai manifestasi kondisi kedua belah pihak waktu itu (Sultan Hamengku Buwono ke I dengan VOC).

Tahun 1788, pembangunan Vredeburg akhirnya telah selesai dan dapat digunakan secara penuh oleh VOC. Namun sayangnya di tahun 1807, pengelolaan Vredeburg diambil alih oleh Koninklijk Holland, karena VOC mengalami kebangkrutan. Saat itu kekuasaan de facto masih dipegang pemerintah Belanda, tetapi secara de jure tetap milik Sultan. Ketika Inggris datang dan berkuasa di Jawa (1811), Vredeburg dikuasai oleh Inggris, tetapi 5 tahun kemudian, tepatnya tahun 1816, Vredeburg kembali dikuasai oleh Belanda. Hingga masa sebelum Jepang berkuasa (sebelum 1942), Vredeburg secara de facto berada di bawah kekuasaan Belanda, meski secara yuridis statusnya ialah tetap milik Sultan.

Kedatangan Jepang yang langsung mengambil alih kekuasaan Belanda pada tahun 1942 juga turut berpengaruh pada pengelolaan benteng. Jepang menjadikan Vredeburg sebagai markas militer sekaligus tempat tahanan perang. Meski begitu, status yuridis tanah ini tetap milik Sultan.

Tiga setengah tahun berselang, Indonesia pun akhirnya merdeka. Jepang tidak memiliki kuasa lagi dalam pemerintahan, begitu pula dalam hal penguasaan aset. Hak milik Vredeburg pun seakan terombang-ambing bersama zaman yang juga masih belum menentu, karena pasca kemerdekaanpun, peralihan kekuasaan masih belum stabil, bahkan pada tahun 1949 ketika Agresi Militer Belanda (AMB) sedang berlangsung, Belanda seakan mencoba menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa dirinya masih memiliki kuasa atas Indonesia. Pada masa-masa ini pula Belanda sempat menguasai kembali Benteng Vredeburg yaitu pada tahun 1949. Kemudian setelah tahun 1949 penguasaan Benteng Vredeburg diambil alih oleh Republik Indonesia, digunakan sebagai markas dan pemukiman Militer Republik Indonesia. Secara de facto, Vredeburg dalam pengelolaan pihak instansi militer, sedangkan area tanah statusnya masih milik Sultan/Kraton. Pada tahun 1965 Benteng Vredeburg pernah digunakan sebagai tempat tahanan politik G 30S/PKI yang langsung dalam pengawasan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Hankam). Selanjutnya pada tahun 1977 (hingga sekarang), Hankam menyerahkan pengelolaan Vredeburg kepada pemerintah daerah.

Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, fungsi kompleks Benteng Vredeburg mengalami perubahan dalam rangka pelaksanaan pembangunan di segala bidang. Tanggal 9 Agustus 1980, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pihak I dan Dr. Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai pihak II menandatangani Piagam Perjanjian, tentang pemanfaatan bekas Benteng Vredeburg. Hal tersebut kemudian dipertegas oleh Prof. Dr. Noegroho Notosoesanto, pada tanggal 5 November 1984 yang menyatakan bahwa bekas Benteng Vredeburg akan difungsikan sebagai Museum Perjuangan Nasional yang pengelolaannya diserahkan kpada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sesuai Piagam Perjanjian tersebut di atas dan surat Sri Sultan Hamengku Buwono IX No. 359/HB/IV/’85 yang disebutkan bahwa perubahan-perubahan di dalam, diizinkan sesuai kebutuhan bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan difungsikan sebagai Museum Benteng Vredeburg hingga sekarang.

Oleh: Tyassanti Kusumo

Daftar Pustaka:

Museum Bekas Benteng Vredeburg Yogyakarta. 1992-1993. Yogakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

About Author
Sample Image

admin

admin@gmail.com

Jawa Tengah

Facebook Twitter Google