Kebudayaan Candrasengkala dalam Pintu Keraton Yogyakarta
30 Juli 2016 - 10:07:55

Waktu merupakan sebuah pengingat akan sebuah peristiwa dimana hal ini menjadikan orang-orang menghitung pertanggalan untuk menentukan sebuah peristiwa besar ataupun juga mencatat pertanggalan setiap peristiwa penting untuk dicatatkan kembali pada sebuah monumen, di sudut bangunan, maupun tertulis dalam secarik kertas. Pentingnya keberadaan penanda waktu ini menjadi landasan utama dalam menceritakan sejarah pada masa lampau untuk merangkai kepingan puzzle yang tercecre di setiap daerah di indonesia untuk dijadikan satu menjadi menjadi sebuah cerita panjang mengenai asal mula keberadaan wilayah nusantara ini. Pada saat itulah orang memikirkan untuk membuat perhitungan agar dapat mencatatkan peristiwa-peristiwa yang belum tertanggalkan itu. Dengan melihat pergerakan benda benda yang dilangit, khususnya matahari dan bulan karena dua benda itulah yang sangat terlihat jelas dari permukaan bumi. Masyarakat mulai memahami bahwa benda-benda itulah yang menyebabkan siang dan malam lalu selanjutnya perhatian mereka seakin mendalam mengenai kedudukan kedua benda itu dilangit mempunyai pola sehingga dapat dijadikan acuan awal dalam merencanakan sebuah desain kalender untuk menghitung waktu. Setelah melakukan perhitungan gerak benda langit itu muncullah sebuah kalender, dalam penentuan hari awal kalender ini biasanya masyarakat pada masa lampau memilih momen terbesar yang pernah terjadi pada masa saat itu. Seperti kalender hijriyah yang penentuan awal tanggalnya berasosiasi dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW, tidak hanya kalender hijriyah. Kalender jawa pun juga dalam penentuan awal tanggalnya juga di asosiasikan dengan kedatangan empu sengkala ke tanah jawa.

Empu sengkala merupakan tokoh penting dalam merumuskan kalender jawa. Disini empu sengkala membagi dua penanggalan yaitu, candrasengkala dan suryasengkala. Suryasengkala yaitu peringatan penanggalan dengan melihat pergerakan matahari, sedangkan candrasengkala yaitu peringatan penanggalan dengan melihat pergerakan bulan. Dalam penggunaannya suryasengkala digunakan sampai runtuhnya majapahit, lalu setelah itu orang jawa menggunakan candrasengkala pada masa kerajaan demak sampai sekarang karena peran masyarakat arab yang membawa kalender hijriyah, dimana kalender hijriyah merupakan pertanggalan yang melihat pergerakan bulan jadi masyarakat jawa beralih untuk melihat pergerakan bulan untuk menghitung pertanggalan. Dalam penulisannya candrasengkala ini tidak menggunakan angka melainkan dengan menggunakan kata-kata yang dimana pemilihan kata-kata ini melambangkan sebuah angka. Hal ini didasarkan oleh masyarakat jawa yang penuh filosofi, sehingga terbentuklah pertanggalan seperti ini.

Penggunaan pertanggalan jawa ini terdapat dalam berbagai tinggalan arkeologi, berkembang dari masa hindu buddha sampai sekarang. Bukti itu terdapat dalam setiap prasasti yang ditemukan di tanah jawa, lalu juga terdapat juga di sebuah hiasan bangunan yang divisualisasikan dalam bentuk rupa. Salah satu contoh candrasengkala ini berada pintu masuk keraton yogyakarta, dimana di atas pintu itu terdapat sebuah hiasan bangunan berbentuk dua buah naga. Hiasan ini mewakili kata-kata “Dwi Naga Rasa Tunggal” di dalam aturan penulisan candra sengkala kata-kata ini dapat menuliskan sebuah tanggal. Dilihat dari Dwi = 2; Naga = 8; Rasa = 6; dan Tunggal = 1 sehingga dapat dituliskan 1682 karena penulisan candrasengkala tersebut terbalik. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1682 merupakan peristiwa dibangunnya keraton yogyakarta. Dapat dikatakan bahwa candrasengkala merupakan data penting dalam menentukan mengetahui peristiwa penting di tanah jawa, karena setiap peristiwa penting di tanah jawa pada masa lampau pertanggalannya dituliskan dalam bentuk candrasengkala.

Perkembangan masyarakat jawa dalam membuat pertanggalan merupakan sebuah kearifan lokal tersendiri yang tidak ada duanya. Pemahaman pertanggalan seperti ini seharusnya dilestarikan karena bisa menjadi ciri khas masyarakat jawa dalam menunjukkan identitas dan hasil budayanya. Dari menuliskan pertangganggalan sampai dengan menuliskan pertanggalan itu dalam bentuk hiasan yang mengandung filosofi yang dalam di sudut bangunan. Jadi tidak hanya sisi estetika melainkan juga dapat memberikan data sejarah yang cukup penting pula. 

Oleh: Yulio Ray Firmando?

About Author
Sample Image

admin

admin@gmail.com

Jawa Tengah

Facebook Twitter Google