Kebudayaan Gerhana dalam Masyarakat Masa Lampau
01 Agustus 2016 - 10:20:15

Fenomena gerhana matahari total merupakan penampakan alam yang sagat menarik untuk disaksikan. Dimana kejadian ini juga sangat singkat untuk disaksikan dan juga jarang untuk menikmatinya lagi, karena fenomena ini hanya terjadi dalam rentang tahun yang lama. Maka dari itu masyarakat di dunia sangat menantikan fenomena ini untuk diabadikan, bahkan dijadikan objek wisata untuk mendapatkan keuntungan tersendiri bagi masyarakat di daerah itu. Fenomena gerhana matahari total baru-baru ini juga terjadi di wilayah indonesia. Pada tanggal 9 maret 2016 kemarin gerhana matahari total ini melewati beberapa wilayah indonesia, diantaranya adalah di Palembang, Bangka, Belitung, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Luwuk, Ternate, Tidore, Palu, Poso, dan Halmahera. Fenomena ini berlangsung selama 1 hingga 3 menit. Kedatangan fenomena ini dalam perkembangannya juga dapat diprediksi, sehingga prediksi itu memudahkan masyarakat untuk mempersiapkan tempat untuk menyaksikan gerhana tersebut dalam posisi yang senyaman mungkin.

Fenomena tidak semata hanya dijadikan objek pariwisata saja, tetapi fenomena ini dijadikan objek penelitian untuk dapat dikaji lebih dalam tentang fenomena alam yang langka dan menakjubkan ini. Penelitian lebih mendalam di dalam studi ilmu astronomi sampai bahkan dalam perkembangan ilmu arkeologi asrtronomi dalam kajian astroarkeologi. Astroarkeologi merupakan kajian mengenai tinggalan manusia pada masa lampau dimana benda tinggalan itu berkaitan dengan melihat pergerakan benda di angkasa, seperti stonehenge yang berada di inggris.

Gerhana matahari total merupakan fenomena kenampakan alam yang terjadi apabila saat puncak gerhana, dimana matahari tertutupi atau terhalangi oleh bulan. Dapat dikatakan juga bahwa posisi Bumi – Bulan – Matahari dalam satu garis lurus. Keadaan ini juga tidak selalu muncul diakibatkan pengaruh jarak antara matahari dan bulan, sehingga bila jarak bulan terlalu jauh dengan matahari maka matahari tidak tertutup penuh. Jadi tidak bisa dikatakan itu gerhana matahari total, melainkan bisa menjadi gerhana matahari sebagian, hybrid, ataupun annular.

Dalam perkembangan di Indonesia fenomena seperti gerhana matahari ini kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Pada masyarakat Jawa khususnya, penampakan fenomena seperti ini menjadi sebuah pertanda mengenai suatu hal yang berbahaya. Maka dari itu setiap adanya penampakan seperti ini banyak acara-acara adat yang mengadakan ritual adat untuk diberi keselamatan oleh sang pencipta agar terhindar dari bencana. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, fenomena ini terjadi dimana ada sebuah raksasa sakti bernama kala Rahu yang sedang berduel dengan batara wisnu di langit. Dalam peperangan itu kala Rahu meminum Tirta Amrta untuk mendapatkan keabadian, karena air itu berkhasiat untuk membuat orang abadi. Tetapi pada saat itu kala Rahu baru meminum sampai tenggorakan lalu dipanah oleh Bathara Wisnu mengenai lehernya. Dan akhirnya badan kala Rahu terpisah dengan kepalanya, karena kepalanya meminum tirta amrta maka kepala kala Rahu masih dapat hidup sedangkan badannya yg belum terkena tirta amrta jatuh ke bumi yang konon katanya berubah menjadi lesung. Sedangkan kepalanya terbang ke angkasa dan menebar ancaman kepada Bathara Surya dan Bathara Candra untuk memakannya, sehingga terjadilah gerhana matahari atau bulan. Badannya yang jatuh ke bumi dan berubah menjadi lesung tadi oleh masyarakat Jawa untuk dipukul agar raksasa kala Rahu memuntahkan matahari atau bulan yang ditelannya agar dapat muncul kembali. Tradisi ini pada masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dinamakan gejog lesung atau dalam bahasa Indonesia berarti menabuh lesung.

Beragam presepsi masyarakat di belahan dunia berbeda-beda dalam melihat fenomena alam seperti gerhana matahari ini, ada yang dijadikan pertanda pergantian musim dan penanda waktu seperti membuat kalender dan bahkan juga diasumsikan sebagai pertanda sebuah bencana. Peristiwa alam ini menjadi pertanda penting bagi masyarakat di dunia dalam membuat kegiatan atau ritual tertentu. 

Oleh Yulio Ray Firmando

Sumber Foto : bandung.merdeka.com

About Author
Sample Image

admin

admin@gmail.com

Jawa Tengah

Facebook Twitter Google